Akta No 23 Tanggal 29 Januari 2007. Notaris: Ny. Wirati Kendarto, SH

Program
Konsultasi
Kesehatan Lansia

Assalamu'alaikum Wr Wb,..dokter Probo yang yang saya hormati. Saya agak bingung campur sedih, karena ibu saya sudah lansia sering sembelit. kerap kali 5 - 6 hari baru buang air besar, itu saja harus menggunakan obat pembuat buang air besar...


Kirim Pertanyaan

HIKMAH PUASA DALAM PEMBENTUKAN MORAL

 

Tidak terhitung lagi para Dai, Ulama menyampaikan kandungan makna puasa yang tercantum dalam surah al-baqarah ayat 183. Allah SWT memberikan gambaran jelas bagaimana puasa bila dilaksanakan dengan baik dan benar maka akan memberikan atsar ( pengaruh) kepada orang yang melaksanakannya. Terkhusus pada bulan Ramadhan, puasa yang dilaksanakan adalah puasa wajib, Wajib hukumnya bagi orang-orang beriman. Sehingga puasa memberikan pemaknaan yang dalam terhadap proses terbentuknya pribadi muttaqin. Dimana tingkatan muttaqin ini tidak sembarang orang bisa memperolehnya. Sesungguhnya tingkatan muttaqin inilah memiliki konsekuensi logis , yakni penghambaan seutuhnya kepada Allah SWT. Sebuah ‘jembatan’  khusus hablum-minallah tentunya hanya seorang hamba dengan Allah yang mengetahuinya.

Kekhususan puasa ramadhan memang harus dimaknai oleh seluruh hamba Allah yang beriman, obsesi menjadi hamba yang muttaqin tentunya harus disertai dengan upaya keras untuk mencapainya. Pemaknaan takwa secara gamblang disebutkan oleh Ghazali sebagai pemeliharaan dan penjagaan dari hal-hal  yang dilarang Allah SWT, tentunya dengan melaksanakan segala ketaatan dan per-ibadahan kepada Allah SWT. Dalam hal ini yang berfungsi menjadi kontrol adalah hati manusia itu sendiri, Sehingga diharapkan seorang muttaqin bisa memelihara / menjaga hati dari memerintahkan melakukan perbuatan dosa dan maksiat.

Bila dicermati dengan seksama, muttaqin ( plural : orang bertakwa) adalah muara akhir dari kehidupan orang-orang beriman. Tidak disangsikan lagi bahwa ketika Allah SWT mendelegasikan puasa sebagai titik tolak meningkatkan kualitas manusia maka takwa bisa menjadi level tertinggi dan tujuan akhir yang hendak dicapai oleh seorang mukmin. Dikarenakan semua aspek ajaran Islam dan kehidupan mukmin harus berpusat pada ketakawaan kepada Allah SWT.

Puasa mengajarkan tidak hanya menahan lapar dan dahaga, bila itu yang hanya bisa dilakukan maka puasanya termasuk level terendah (Shaumul 'Awwam). Lebih luas lagi jika seorang hamba hanya bisa mencapai level terendah tersebut maka totalitas penyerahan dirinya hanya sampai kepada ‘abdun buthun ( hamba perut), namun jika seorang hamba bisa mengendalikan pancara indera hingga kepada batin dan kecendrungan memiliki pikiran negatif maka seorang hamba bisa mengikuti aturan-aturan tentunya dia akan berpegang kepada konsistensi yang haq ( kebenaran ilahi).

Secara riil aktualiasasi ketakwaan di tengah masyarakat sepertinya hanya simbolik saja. Berapa banyak orang melakukan puasa setiap tahunnya, namun tidak memberikan atsar ( pengaruh) positif pada diri mereka. Yang didapatkan adalah perilaku yang sangat bertolak belakang dari dari ketakwaan itu sendiri. Diantara mereka ada yang berperilaku menyimpang, justru merugikan masyarakat umum. Malah merugikan umat Islam sendiri, seperti terlihat di pemberitaan media massa maupun elektronik banyak diantara mereka melakukan korupsi dan sebagainya, seakan perbuatan yang dilakukannya tersebut menguntungkan dirinya sendiri. Tetapi sebaliknya justru merugikan orang lain.

Jika demikian tentunya manfaat puasa tidak bisa  memberikan pengaruh signifikan kepada si pelaku. Bila puasa dilakukan dengan benar maka sesungguhnya puasa merupakan latihan yang dilaksanakan sebulan penuh untuk menempa diri dengan senantiasa mendekatkan kepada Allah SWT dan melazimkan amalan-amalan yang diajarkan Rasulullah SAW.  Demikian juga jika pelaksanaan ibadah puasa jika dikerjakan dengan baik dan benar, tentunya tidak hanya pelaksanaan pada level shoum ‘awwam bila dimungkinkan ditingkatkan ke level yang lebih tinggi bahkan hingga level khowasul khowas. Maka akan berdampak pada perbaikan diri (moral) ke yang lebih baik, dikarenakan puasa yang dilakukannya benar-benar memberikan dampak positif kepada jasmani maupun rohani, sehingga ketika atsar tersebut bisa diperoleh maka derajat ketakwaan bisa memberikan kemanfaatan kepada yang bersangkutan, secara otomatis perilaku-perilaku negatif akan dengan mudah tersingkir ( lukis alam)



Form Komentar
Nama
Email
Web/Blog Anda
Isi Komentar
Masukkan kode berikut
Contact Us

Phone:
(0274) 566987, 543473


Alamat

Sapen, Jl. Rambutan GK I/609 Yogyakarta


Rekening Donasi Lakesmu

Bank Syariah Mandiri Cabang Yogyakarta

No Rekening: 7005022066

An: ANANTA QQ LAKESMU

Statistik
Pengunjung hari ini: 58
Total pengunjung: 23707
Pengunjung online: 2